Cerita Pendek Anak : Pohon Jeruk Kiana


Halo adik-adik, seorang teman kecil dari Indonesia Tengah mau berbagi kisahnya, nih. Kita simak bersama ya. 

Hari ini hari Sabtu yang tidak biasa untuk Kiana si gadis kecil berumur lima tahun dari Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Betapa tidak, Ayah akan mengajaknya ke kota Mataram! Jauh tidak ya dari rumah Kiana? Kata Ayah, kalau naik motor kira-kira bisa ditempuh dalam waktu dua setengah jam. 

Haloo teman-teman

Sejak semalam Ibu sudah membantu Kiana menyiapkan ransel dan isinya untuk perjalanan ini. Pakaian ganti, minyak angin, jas hujan, handuk kecil, dan masih banyak lagi. Semua bersukaria karena akan menghadiri acara di rumah teman ayah, lalu dilanjutkan dengan berwisata ke Pantai Ampenan! Wah, pastinya seru sekali ya.

“Ayo bu, cepat kita bersiap-siap.” Pinta Kiana yang sudah bangun sejak pagi.

“Kiana, sudah kau siram pohon jerukmu?” Tanya Ayah sambil memakai jaket motor.

“Oh iya, belum! Sebentar ‘yah, aku siram dulu.” Segera Kiana pergi ke halaman samping.

Kiana memiliki sebuah pohon jeruk yang masih kecil, dibawakan Ayah dari kota sebulan yang lalu. Ayah bilang ini adalah pohon jeruk Kietna oleh-oleh dari teman Ayah di Pulau Sumatera. Wah, mirip ya namanya dengan Kiana,  makanya ia sayang sekali dengan pohon ini dan tak lupa menyiramnya setiap hari. Ayah dan Kiana bahkan bekerja sama membuat pagar bambu di sekelilingnya agar daun-daun mudanya tidak dipatoki si Kokok ayam jago peliharaan Kiana. Dengan mata berbinar-binar ia memandangi dahan-dahan kecilnya sambil menghitung jumlahnya. Satu, dua, tiga, empat, lima. Ya! Lima daun hijau yang segar. Ayo tumbuhlah yang subur ya pohon jerukku sayang! Seru Kiana dalam hati. 

Halo aku pohon jeruk

“Ingat nak, pohon itu makhluk hidup sama seperti kita. Perlu minum setiap hari supaya tidak sakit lalu mati kehausan.” Sahut Ibu sambil tersenyum lalu mengunci pintu rumah dari luar.

Perjalanan pagi ini menuju arah barat sangat menyenangkan. Jauh di sebelah kanan (utara) menjulang perbukitan Rinjani, langit biru bersih menyapa, udara segar semilir mengelus pipi Kiana yang membonceng di antara Ayah dan Ibu. Melewati jalan setapak, menyusuri sawah di perbukitan, pohon kelapa di sepanjang jalan desa, motor Ayah begitu lincah menanjak dan menuruni bukit berkelok-kelok. 

Jalan desanya indah ya..

Setelah acara syukuran usai, Ayah menepati janjinya mengajak Ibu dan Kiana berjalan-jalan ke Pantai Ampenan. Kiana senang sekali melihat banyak orang memancing. Bergandengan tangan dengan Ibu berjalan menyusuri pantai, bermain pasir, berlarian dikejar ombak, mencari kerang-kerang, sampai tak terasa matahari semakin turun di ufuk barat dan mereka bersiap pulang.

“Kita pulang yuk sekarang, nak.” Ujar Ibu.

“Tapi Kiana masih mau main.” Mohonnya.

“Sebentar lagi di sini gelap, Kiana, dan anginnya kencang. Pohon Jeruk Kiana di rumah sendirian lho. Kalau nanti kehausan bagaimana?” Ayah membujuk Kiana.

Pantai Ampenan yang indah

“Oh iya, pohon jeruk Kiana! Ayo pulang, Ayah.” Sontak Kiana teringat pohon jeruk kesayangannya.

Di perjalanan pulang Kiana betul-betul mengantuk. Mungkin karena lelah bermain di sepanjang pantai tadi bersama Ibu dan Ayah ya. Tiba di rumah sudah gelap, mereka segera masuk ke dalam rumah.

“Pohon Jeruk Kiana belum disiram, Ibu.” Sahutnya,

“Iya, tidak apa-apa. Besok pagi kita siram ya nak.” Ibu menenangkan Kiana.

Dalam hati Kiana bertekad untuk menyiram pohon jeruknya pagi-pagi benar ketika bangun dari tidur.

***

“Ibuuuu!!!! Pohon Jeruknyaaaa…..” teriak Kiana memecah keheningan pagi.

Ibu yang tengah memasak di dapur bergegas keluar mendapati Kiana yang menangis sambil menutupi wajahnya di depan pohon jeruk.

“Ada apa nak?”

“Itu.” Kiana menunjuk kepada batang dahan pohon jeruk yang sudah gundul tanpa daun sama sekali. Ibu heran, mengapa cepat sekali daun-daunnya rontok ya? Apa yang terjadi? Ibu lalu memeriksa dahan-dahannya dengan teliti. Ooo…ternyata di batangnya menempel seekor ulat hijau yang besar, sebesar jari telunjuk orang dewasa! Pantas saja beberapa hari yang lalu ada seekor kupu-kupu terbang dan hinggap di salah satu daun.

 

Hai ulattt, kamu lucu sekali

Dengan sigap Ibu mengambil sapu lidi, mematahkan sebatang dan mengambil ulat tersebut.

“Ini dia yang memakan daunnya! Ulatnya besar sekali…hiiiyy….” Ibu pun merasa geli.

Kiana menjerit ketakutan. Bergegas Ibu membawa ulat hijau ke kandang ayam untuk menjadi panganan si Kokok ayam jago peliharaan Kiana. 

“Jangan menangis Kiana, selama ia tidak kekeringan pohon itu akan tetap hidup kok. Kiana harus rajin merawat dan menyiram ya, nanti akan tumbuh daun-daun yang baru.” Jelas Ibu sambil mengusap rambut keriting Kiana.

“Tapi kenapa ulatnya nakal bu? Kenapa dia habiskan daun pohon Kiana?” 

Ibu lalu mengingatkannya  akan beberapa hari lalu saat Kiana dengan gembira menceritakan ada seekor kupu-kupu hitam dan besar yang terbang lalu hinggap di pohon jeruknya. 

“Nah, kupu-kupu itu sedang mencari daun untuk bertelur, setelah itu telurnya akan menetas menjadi ulat yang suka sekali makan daun sampai ia membesar. Kemudian ia akan tidur dalam bentuk kepompong dan tak lama keluar sebagai kupu-kupu cantik. Kalau Kiana mau pohon jeruknya tidak dimakan ulat, setiap hari Kiana harus periksa dengan teliti apakah ada telur ulat menempel di daun-daunnya ya.” Jawab Ibu dibalas anggukan Kiana.

Sama seperti Kiana, pohon-pohon yang ada di rumah adik-adik harus dirawat dan diperhatikan ya. Supaya bisa bertumbuh besar, sehat, berbunga lalu berbuah. Selamat berkebun bersama orangtua kalian dan menikmati pepohonan ya adik-adik.

Writer by Stefania P

Foto dan ilustrasi :

1. Pohon Jeruk www.jennysilks.com

2. Anak Keriting www.lectureinprogress.com

3. Pantai Ampenan www.airbnb.com

4. Lemon Green Caterpillar www.picfair.com

5. Jalan desa www.asianwanderlust.com

Share

bloggreen parentinghighlight

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *